Metode Penelitian Kualitatif beserta Contoh Judul, Contoh Proposal (Lengkap)

Metode Penelitian Kualitatif-Saat anda mengijak perguruan tinggi dan menginjak semester akhir biasanya akan di beri tugas untuk membuat karya penelitian, nah salah satunya adalah penelitian kualitatif ini, untuk mempermudah anda dalam mencari referensi berikut adalah pembahasa lengkap mengenai metode penelitian kualitatif serta contoh dan pembahasannya :

contoh penelitian kualitatif

from: Berita Dan Informasi Terbaru.com

Pengertian metode penelitian kualitatif

Metode penelitian kualitatif adalah sebuah cara/upaya lebih untuk menekunkan pada aspek pemahaman secara mendalam pada suatu permasalahan. Penelitian Kuanlitatif adalah penelitian riset yang bersifat deskripsi, cenderung menggunakan analisis dan lebih menonjolkan peroses makna.

Tujuan dari metode ini adalah Pemahaman secara luas dan mendalam terhadap suatu permasalahan secara mendalam pada suatu permasalahan yang sedang dikaji atau akan di kaji. Dan data yang dikumpulkan lebih banyak huruf, kata ataupun gambar dari pada angka. wikipdia>>

Ciri-ciri Penelitian Kualitatif

ciri ciri yang ada dalam metode peneltian kualitatif

from: al-balad.news

Berikut pembahasannya Penelitian kualitatif adalah penelitian tentang riset yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis. Biasa dilengkapi dengan makalah peneletian, proposal, judul penelitian juga terdapat beberapa jenis penelitian kualitatif yang akan kita bahas, berikut ini

Adapun ciri pokok yang terdapat dalam metode penelitian kualitatif ada lima ciri, antara lain :

  1. Menggunakan lingkungan alamiah untuk sumber data

Sumber data yang dipakai dalam penelitian kualitatif berupa lingkungan alamiah. Kajian utama dalam penelitian kualitatif adalah peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kondisi dan situasi sosial.

Penelitian dilaksanakan ketika berinteraksi langsung dalam tempat kejadian. Peneliti melakukan pengamatan, mencatat, mencari tahu, menggali sumber yang berkaitan dengan peristiwa yang sedang terjadi pada saat itu.

Hasil yang didapat segera disusun saat itu juga. Apa yang sudah diamati pada umumnya tidak lepas dari konteks lingkungan dimana kejadian itu berlangsung.

  1. Mempunyai sifat deskriptif analitik

Data yang didapat dari hasil pengamatan, wawancara, dokumentasi, analisis, catatan lapangan, disusun peneliti di lokasi penelitian, tidak dalam bentuk angka-angka. Peneliti melakukan analisis data dengan memperbanyak informasi, mencari hubungan ke berbagai sumber, membandingkan, dan menemukan hasil atas dasar data sebenarnya (tidak dalam bentuk angka).

Hasil analisis data tersebut berupa pemaparan yang berkenaan dengan situasi yang sedang diteliti dan disajikan dalam bentuk uraian narasi. Pemaparan data tersebut biasanya adalah menjawab dari pertanyaan dalam rumusan masalah yang sudah ditetapkan.

  1. Tekanan pada proses bukan hasil

Data dan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian kualitatif bersangkut paut dengan pertanyaan untuk mengungkapkan proses dan bukan dari hasil dari suatu kegiatan. Pertanyaan menuntut gambaran keadaan yang sebenarnya tentang kegiatan, prosedur, tahap-tahap, alasan-alasan dan interaksi yang terjadi dimana serta pada saat dimana proses itu sedang berlangsung.

  1. Bersifat induktif

Penelitian kualitatif diawali mulai dari lapangan yaitu fakta empiris, Peneliti terjun langsung ke TKP/lapangan, mempelajari suatu proses penemuan yang sedang terjadi secara alami dengan mencatat, menganalisis, melaporkan dan menarik kesimpulan dari proses berlangsungnya penelitian tersebut.

Hasil penemuan penelitian dari lapangan dalam bentuk konsep, prinsip, teori dikembangkan lagi, bukan dari teori yang telah ada. Penelitian kualitatif menggunakan proses induktif maksudnya dari data yang terpisah-pisah namun saling berkaitan erat satu sama lain.

  1. Mengutamakan makna

Makna yang diungkapkan berkisar pada persepsi orang Dengan suatu peristiwa yang akan diteliti tersebut. Contoh: penelitian yang dilakukan tentang peran kepala sekolah di dalam pembinaan guru. Peneliti memfokuskan perhatiannya pada pendapat kepala sekolah tentang guru yang dibinanya.

mencari informasi serta pandangan kepala sekolah tentang keberhasilan dan kegagalannya membina guru, apa saja yang dialami di dalam membina guru, mengapa gurun bisa gagal dibina, dan kenapa hal itu bisa terjadi?.

Selain mencari informasi kepada kepala sekolah, peneliti juga harus mencari informasi dari guru sebagai bahan perbandingan supaya dapat diperoleh pandangan mengenai mutu pembinaan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Ketepatan informasi dari partisipan diungkap oleh peneliti supaya dapat menginterpretasikan hasil penelitian secara tepat dan benar.

Berdasarkan ciri-ciri diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian kualitatif diawali dari lapangan yang berdasarkan pada lingkungan alami, bukan pada teori. Data serta informasi yang diperoleh dari lapangan ditarik makna dan konsepnya, melalui pemaparan secara deskriptif analitik, dan tanpa menggunakan angka, karena lebih mementingkan prosesnya.

Di dalam dunia pendidikan, penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan suatu proses kegiatan, pendidikan yang berdasakan pada apa yang terjadi di lapangan sebagai bahan kajian untuk menemukan kelebihan, kelemahan dan kekurangannya sehingga dapat ditentukan upaya dalam perbaikannya ;menganalisis suatu fakta, gejala serta peristiwa pendidikan yang terjadi di lapangan; menyusun hipotesis yang berkenaan dengan prinsip dan konsep pendidikan berdasarkan pada data dan informasi yang terjadi di lapangan.

Baca Juga: Langkah Langkah Penelitian Beserta Contoh dan Penjelasannya

Metode – metode Penelitian Kualitatif

metode dalam penelitian kualitatif

From: eMeReR.com

Adapun metode penelitian kualitatif adalah sebagai berikut :

  1. Penelitian Fenomenologi

Penelitian fenomenologi yang bersifat induktif. pendekatan yang digunakan adalah deskriptif, dikembangkan dari filsafat fenomenologi. Fokus filsafat fenomenologi maksudnya pemahaman tentang respon atas kehadiran atau kebaradaan manusia, tidak sekedar pemahaman atas bagian-bagian yang spesifik atau perilaku khusus.

Tujuan penelitian fenomenologikal ini adalah menjelaskan pengalaman-pengalaman apa yang dialami oleh seseorang dalam kehidupannya, termasuk interaksinya dengan orang lain.

Contoh penelitian fenomenologi atau study mengenai daur hidup masyarakat tradisional diamati dari perspektif kebiasaan hidup sehat.

  1. Penelitian Teori Grounded

penelitian grounded yaitu tekhnik penelitian induktif. Tekhnik ini pertama kali dicetuskan oleh Strauss dan sayles pada tahun 1967.Pendekatan penelitian grounded ini bermaslahat dalam menemukan problem-problem yang muncul dalam situasi kebidanan serta aplikasi proses-proses pribadi untuk menanganinya.

Metodologi teori ini menekankan pada observasi dan mengembangkan basis praktik hubungan "intuitif" antara variabel.

Proses penelitian grounded ini melibatkan formulasi,pengujian,dan pengembangan ulang proposisi selama penyusunan teori.

  1. Penelitian Etnograf

Penelitian tipe ini berusaha untuk memaparkan kisah kehidupan keseharian orang-orang yang dalam kerangka menjelaskan fenomena budaya tersebut, mereka menjadi bagian integral lainnya.

Dalam penelitian ini pengumpulan data dilakukan secara sistematis dan deskriptif. Analisis data dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan teori prilaku kultural.

Dalam penelitian etnografi, peneliti secara aktual hidup atau menjadi bagian dari setting budaya dalam tatanan untuk mengumpulkan data secara sistematis dan holistik. Melalui penelitian inilah perbedaan-perbedaan budaya tersebut dapat dijelaskan, dibandingkan untuk menambah pemahaman mengenai dampak budaya pada perilaku atau kesehatan manusia.

  1. Penelitian Historis

Penelitian historis yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk merekonstruksi kondisi masa lalu secara objektif, sistematis dan akurat. Melalui penelitian inilah, bukti-bukti dikumpulkan , dievaluasi, dianalisis serta disintesiskan.

Kemudian, berdasarkan bukti-bukti tersebut dirumuskan kesimpulan. Ada kalanya penelitian historis dipakai untuk menguji hipotesis tertentu.Misalnya,hipotesis mengenai dugaan adanya persamaan antara sejarah perkembangan dunia pendidikan dari satu negara yang mengalami hegemoni oleh penjajah yang sama.

Penelitian historis umumnya memperoleh data melalui catatan catatan artifak, atau laporan-laporan verbal. Ada beberapa ciri yang dominan dalam penelitian historis antara lain:

  • Adakalanya lebih bergantung terhadap data hasil observasi orang lain daripada hasil observasinya milik sendiri
  • Data penelitian diperoleh melalui observasi yang cermat, dimana data yang ada harus objektif,otentik, serta diperoleh dari sumber yang tepat pula
  • Data yang didapat bersifat sistematis menurut, urutan peristiwa dan bersifat lengkap dan tuntas.
  1. Penelitian Kasus

Penelitian khusus atau penelitian di lapangan dimaksudkan untuk mempelajari secara intensif mengenai latar belakang keadaan, posisi saat ini dan interaksi linkungan unit sosial tertentu yang bersifat apa adanya (given).

Subjek penelitian bisa berupa individu,kelompok, institusi atau masyarakat.Penelitian kasus merupkan penelitian yang mendalam tentang unit sosial tertentu, yang hasil penelitian tersebut memberi gambaran luas dan mendalam mengenai unit sosial tertentu.

Subjek yang diteliti sendiri relatif terbatas, namun variabel-variabel serta fokus yang diteliti sangat luas sekali dimensinya. Contoh, studi lapangan yang tuntas serta mendalam mengenai kegiatan yang paling banyak dilaksanakan oleh tenaga pekerja sosial selama menjalankan tugasnya di camp pengungsi.

  1. Inquiry Filosofi

Inquiry filisofis melibatkan penggunaan mekanisme analisis intelektual guna memperjelas makna,membuat nilai-nilai menjadi nyata,mengindentifikasi etika, serta studi tentang hakikat pengetahuan.

Peneliti filosofis mempertimbangkan gagasan atau isu-isu dari semua perspektif dengan eksplorasi ekstensif atas literatur,menguji/menelaah secara mendalam makna konseptual,merumuskan pertanyaan,mengajukan jawaban, serta menyarankan implikasi atas jawaban-jawaban tersebut.

Peneliti dipandu dengan pertanyaan- pertanyaan itu.Terdapat tiga inquiry filosofis,antara lain yaitu:

  1. Foundational Inquiry
  2. Philosophical Analyses
  3. Ethical Analyses

Study fondasional melibatkan analisis mengenai struktur ilmu dan proses berpikir tentang penilaian dalam fenomena tertentu yang dianut bersama oleh "anggota" disiplin ilmiah.

Tujuan analisis filosofis yaitu menguji makna serta mengembangkan teori yang didapat melalui analisis konsep atau analisis linguistik.inquiry. etikal melibatkan analisa intelektual atas masalah etik berkaitan dengan andil, hak,tugas,benar dan salah, kesadaran dan tanggungjawab.

  1. Teori kritik sosial

Teori kritik sosial yaitu filosofi lain dari sebuah metodologi kualitatif yang unik.Dipandu dengan filsafat dari teori kritik sosial,peneliti mendapatkan pemahaman mengenai cara seseorang berkomunikasi serta bagaimana ia mengembangkan makna-makna simbolis dalam masyarakat.

Banyak pemahaman yang muncul dalam sebuah dunia, yang fakta kemasyarakatan pasti di terima apa adanya,tidak didiskusikan terlebih dahulu atau diposisikan secara dogmatik.

Tatanan politik yang mapan itu dipersepsi tertutup bagi perubahan dan tidak patut dipertanyakan.Tatanan politik semacam ini umumnya muncul pada masyarakat dibawah pemerintahan yang otoriter.

Artike Terkait: 16+ Contoh Kata Pengantar Makalah, Laporan, Skripsi Yang Baik dan Benar

jenis-jenis Metode Penelitian Kualitatif

jenis metoe penelitian kualitatif

From: blogdoniumarsono.blogspot.com

Berikut adalah penjelasan dari jenis-jenis penelitian kualitatif tersebut :

  1. Jenis Metode Etnografi

Menurut para ahli, Miles & Hubberman seperti yang dikutip oleh Lodico, Spaulding & Voegtle dalam bukunya Methods in Educational Research From Theory to Practice, disebutkan kalau etnografi berasal dari bahasa Yunani ethos dan graphos.

Yang artinya tulisan mengenai suatu kelompok budaya. Sedangkan Menurut Le Clompte dan Schensul etnografi yaitu metode penelitian yang berguna dalam menemukan pengetahuan yang terdapat/terkandung dalam suatu budaya atau komunitas tertentu.

  1. Jenis Metode Fenomenologi

Istilah fenomenologis ini berasal dari bahasa Yunani, yakni phainomenon (penampakkan diri) dan logos (akal). Ilmu tentang penampakan ialah ilmu tentang apa yang menampakkan diri pada pengalaman subjek.

Donny Gahrial Adian di dalam buku Pengantar Fenomenologi menyebutkan bahwa fenomenologis yakni sebuah studi tentang fenomena-fenomena atau apapun itu yang tampak. Dengan kata lain fenomenologi merupakan mendapatkan penjelasan tentang realitas yang nampak.

  1. Jenis Metode Studi Kasus

Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus adalah pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu.

Surachrnad (1982) telah membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian terhadap suatu kasus secara intensif serta rinci.

  1. Jenis Metode Teori Dasar

Jujun S. Suriasumantri (1985) menyatakan bahwa penelitian dasar atau murni yakni penelitian yang bertujuan untuk menemukan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diketahui.

  1. Jenis Metode Studi Kritis

Metode Studi kritis yaitu metode yang digunakan untuk penelitian yang berkembang dari teori kritis, feminis, ras serta pasca modern yang bertolak dari asumsi kalau pengetahuan itu bersifat subjektif.

Peneliti yang kritis memandang bahwa masyarakat terbentuk oleh orientasi kelas, status, ras, suku bangsa, jenis kelamin dan lain sebagainya. Peneliti feminis umumnya memusatkan perhatiannya terhadap masalah gender, ras, sedangkan peneliti pasca modern memusatkan perhatian pada institusi sosial dan kemasyarakatan.

  1. Metode Analisis Konsep

Menurut Peter Salim di dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1990:61) analisis yaitu penyelidikan terhadap suatu problem/peristiwa (perbuatan, karangan dan sebagainya) guna mendapatkan fakta yang tepat (asal-usul, sebab, penyebab, sebenarnya, dan lain sebagainya)".

Sedangkan pengertian konsep menurut Woodruf yaitu suatu ide atau gagasan yang relatif sempurna serta bermakna, suatu pengertian tentang suatu objek, produk subjektif yang bermula dari cara seseorang membuat pengertian terhadap objek-objek atau benda-benda lewat pengalamannya (setelah melakukan persepsi pada objek/benda).

Dari dua definisi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa definisi metode analisis konsep yakni penelitian yang memfokuskan pada suatu konsep yang sudah ada sebelumnya, supaya dapat difahami, digambarkan, dijelaskan serta implementasinya di lapangan.

  1. Metode Analisis Sejarah

    Metode analisis sejarah/penelitian historis menurut Jack. R. Fraenkel & Norman E. Wallen, 1990 : 411 di dalam Yatim Riyanto, 1996: 22 dalam Nurul Zuriah, 2005: 51 yakni penelitian yang secara eksklusif memfokuskan terhadap masa lalu.

Penelitian ini mencoba untuk merenkonstruksi apa yang terjadi pada masa yang lampau selengkap dan seakurat mungkin, dan pada umumnya menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Dalam mencari data dilakukan secara sistematis supaya mampu menggambarkan, menjelaskan, serta memahami kegiatan/peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu.

Contoh Judul Penelitian Kualitatif:

menulis judul dalam metode penelitian kualitatif

Fom: rahasiapenulis.com

  1. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen Membeli Produk
  2. Analisis Nilai-Nilai Patriotisme
  3. Analisis Peran Kepala Sekolah Dalam Menerapkan Manajemen Mutu Pendidikan
  4. Cara Belajar Siswa Berprestasi
  5. Cara Belajar Siswa SD Dalam Menghadapi Ujian Nasional
  6. Eksploitasi Anak Jalanan
  7. Evaluasi Kebijakan Pendidikan Inklusif
  8. Gambaran Manajemen Pembelajaran PAI
  9. Kebiasaan Belajar Pada Siswa Berprestasi Di SD
  10. Kebiasaan Membaca Siswa Sekolah Dasar
  11. Keefektifan Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengarang Melalui Kebiasaan Menulis Buku Harian
  12. Kesulitan Pemahaman Konsep Gaya Pelajaran IPA
  13. Kinerja Dan Profesionalisme Guru SD
  14. Kompetensi Global Guru Sekolah Dasar
  15. Kompetensi Guru Dalam Perencanaan Pembelajaran
  16. Makna Kepemimpinan Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan
  17. Manajemen Keuangan Sekolah
  18. Metode Pembelajaran Yang Efektif Dalam Membentuk Karakter
  19. Metode Pembelajaran Yang Efektif Untuk Menyampaikan Materi Pecahan
  20. Minat Kegiatan Kepramukaan Siswa SD
  21. Model Pembelajaran Yang Efektif Dalam Pembelajaran
  22. Model Pemberian Tugas Pembelajaran Matematika
  23. Pelaksanaan Bimbingan Konseling Di SD
  24. Penerapan Manajemen Berbasis Sekolah Di SD
  25. Penerapan Model Pembelajaran Inquiry Pada Bahasan Trigonometri
  26. Pentingnya Keterampilan Membaca Bagi Siswa SD
  27. Pentingnya Semangat Kerja Karyawan Guna Meningkatkan Produktivitas
  28. Peran Guru Kelas Sebagai Fasilitator
  29. Peran Orang Tua Terhadap Anak Berprestasi
  30. Peran Orang Tua Terhadap Anak Dalam Bidang Akademik
  31. Persepsi Dan Perilaku Merokok Mahasiswa PGSD
  32. Persepsi Guru Kelas Terhadap Pelaksanaan KTSP
  33. Persepsi Guru Matematika Terhadap Penggunaan Bahan Manipulatif
  34. Persepsi Guru Terhadap Penerapan Kurikulum KTSP
  35. Persepsi Masyarakat Terhadap Penggunaan Metode Inkuiri
  36. Persepsi Siswa Terhadap Peran Guru Bimbingan
  37. Persepsi Siswa Terhadap Pola Interaksi Guru Dalam Pembelajaran
  38. Pesan Dalam Tarian Topeng Panji Cirebon
  39. Pola Belajar Siswa Dalam Menghadapi Ujian Nasional
  40. Pola Emosi Guru Dalam Menjalankan Tugas Di SD
  41. Profesionalisme Guru SD
  42. Profil Guru Yang Efektif Mendidik Siswa SD
  43. Strategi Guru Dalam Pembentukan Karakter Siswa
  44. Strategi Harian Tribun Timur Untuk Menjadi Surat Kabar Terpercaya Di Kota Makassar
  45. Teknik-Teknik Motivasi Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar
  46. Upaya Guru Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Siswa SD
  47. Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru
  48. Upaya Peningkatan Belajar Matematika Melalui Tugas Pekerjaan Rumah
  49. Variasi Keterampilan Mengajar Guru

Contoh Proposal Kualitatif

contoh proposal metode kualitatif

From: CustomShow.com

 

UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA DI MA Nurul Azhar Ngawi

PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

Disusun untuk Memenuhi Tugas Metodologi Penelitian Pendidikan

Dosen Pengampu : ………

Oleh:

………….

JURUSAN BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI BALIKPAPAN


Tahun 20../20..

  1. PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah

    Istilah pubertas atau adolescensia umum di maknai dengan masa remaja, yaitu masa perkembangan sifat tergantung pada (dependence) terhadap orang tua kearah kemandirian (independence), minat-minat seksual, perenungan diri, perhatian pada nilai-nilai estetika dan isu-isu moral.

    Sedangkan menurut ahli, Harold Alberty (1967:86), remaja adalah masa peralihan antara masa anak dengan masa dewasa yakni berlangsung 11-13 tahun hingga 18-20 tahun menurut umur kalender kelahiran seseorang.

    Sejauh mana remaja dapat mengamalkan nilai-nilai yang sudah di anutnya serta yang telah dicontohkan kepada mereka? Salah satu tugas perkembangan yang sangat perlu dilakukukan remaja adalah mempelajari apa yang diharapkan oleh kelompoknya kemudian menyesuaikan tingkah lakunya dengan harapan sosial tanpa bimbingan, pengawasan, motivasi, serta ancaman sebagaimana pada waktu kecil.

    Ia juga di tuntut untuk mampu mengendalikan tingkah lakunya karena dia bukan lagi tanggung jawabguru, orang tua atau orang lain.

    Berdasarkan penelitian empiris yang dilaksanakan Kohlberg pada tahun 1958, sekaligus menjadi disertasi doktornya yang judul “The Developmental of model of moral Think and choice in the years 10 to 16". Menyebutkan tahap-tahap perkembangan moral pada individu bisa di bagi yaitu sebagai berikut:

    1. Tingkat Prakonvensional

    Dalam tingkat ini anak tanggap pada aturan-aturan budaya dan terhadap ungkapan-ungkapan budaya mengenai baik atau buruk, benar atau salah. Namun, hal ini semata-mata ditafsirkan dari sudut pandang sebab akibat fisik atau kenikmatan perbuatan (hukuman, keuntungan, pertukaran dan kebaikan).

    2. Tingkat Konvensional

    Dalam tingkat ini, anak hanya menurut pada harapan keluarga, kelompok ataupun bangsa. Ia memandang bahwa hal tersebut penting bagi dirinya sendiri, tanpa mengindahkan akibat yang segera dan nyata.

    3. Tingkat Pasca-konvensional

    Dalam tingkatan ini ada usaha yang jelas untuk merumuskan nilai-nilai serta prinsip moral yang dimiliki keabsahan dan dapat diterapkan, lepas dari otoritas kelompok atau orang yang berpegang terhadap prinsip-prinsip tersebut dan terlepas pula dari identifikasi individu sendiri dengan kelompok itu.

    Piaget mengatakan bahwa masa remaja sudah mencapai tahap pelaksanan formal dalam kemampuan kognitif. Ia dapat mempertimbangkan semua kemungkinan untuk mengatasi suatu problem dari beberapa sudut pandang serta berani mempertanggung jawabkan.

    Sehingga kohlberg juga berpendapat, perkembangan moral ketiga, moralitas pasca-konvensional harus di gapai selama masa remaja.

    Beberapa prinsip di terimanya melalui dua tahap; pertama meyakini kalau dalam keyakinan moral harus ada fleksibilitas sehingga bisa memungkinkan dilakukannya perbaikan dan perubahan standar moral jika menguntungkan semua anggota kelompok; kedua menyesuaikan diri dengan standar sosial serta ideal untuk menjahui hukuman sosial terhadap dirinya pribadi, sehingga perkembangan moralnya tak lagi atas dasar keinginan pribadi, namun mernghormati orang lain.

Tapi, pada kenyataan banyak ditemukan remaja yang belum dapat mencapai tahap pasca-konvensional tersebut, dan pernah juga ditemukan remaja yang baru mencapai tahap prakonvensional.

Fenomena itu banyak dijumpai dalam remaja yang pada umumnya mereka masih duduk di bangku SMA/SMK, seperti:

1. Berperilaku tidak terpuji, meremehkan peraturan dan disiplin sekolah yang ada
2. Senang berfoya-foya dan bergerombol/berkelompok
3. Mentaati peraturan sekolah, karena satu hal, takut pada hukuman

Dan tidak jarang juga kita mendengar/melihat perkelahian,tawuran terjadi antar remaja yang tidak jelas sebabnya. Bahkan perkelahian bisa meningkat menjadi permusuhan kelompok, yang dapat menimbulkan korban pada kedua belah pihak.

Jika ditanyakan kepada mereka, apa yang menyebabkan mereka bisa berbuat kekerasan sesama remaja, dan apa masalahnya sehingga peristiwa yang memalukan itu bisa terjadi, banyak yang menjawab bahwa mereka tidak tahu, tidak sadar mengapa mereka secepat itu menjadi marah dan ikut berkelahi.

Fenomena di atas menggambarkan kalau upaya remaja untuk menggapai moralitas dewasa; mengganti konsep moral yang bersifat khusus dengan konsep moral yang bersifat umum, merumuskan konsep yang baru dikembangkan dalam kode moral untuk pedoman tingkah laku, dan mengendalikan tingkah laku pribadi, adalah upaya yang tidak mudah dicapai bagi mayoritas remaja.

Menurut Rice (1999), masa remaja yakni masa peralihan, ketika individu yang mempunyai kematangan. Pada masa tersebut, terdapat dua hal penting yang menyebabkan remaja melakukan pengendalian diri.

Dua hal itu adalah, pertama hal yang bersifat eksternal, yakni adanya perubahan dalam lingkungan. Pada tahap ini, masyarakat dunia sedang mengalami banyak perubahan dengan begitu cepat yang dapat membawa berbagai dampak, baik dampak positif maupun dampak negatif bagi remaja.

kedua adalah hal yang bersifat internal, adalah karakteristik dalam diri remaja yang membuat relatif lebih bergejolak dibanding dengan masa perkembangan lainnya (storm and stress period).

Supaya remaja yang sedang mengalami perubahan cepat di dalam tubuhnya itu dapat menyesuaikan diri dengan keadaan perubahan tersebut, maka berbagai usaha baik dari pihak orang tua, guru maupun orang dewasa lainnya, sangat diperlukan.

Salah satu peran konselor yakni sebagai pembimbing dalam tugasnya yaitu mendidik, guru harus membantu murid-muridnya supaya mencapai tahap kedewasaan secara optimal.

Maksudnya kedewasaan yang sempurna (sesuai dengan kodrat yang dimiliki murid) Dalam peranan ini guru harus memperhatikan aspek-aspek pribadi pada setiap murid antara lain kematangan, kebutuhan, kemampuan, kecakapannya dan sebagainya supaya mereka dapat mencapai tingkat perkembangan dan kedewasaan yang optimal.

Dalam hal ini di samping orang tua, konselor di sekolah juga memiliki peranan penting dalam membantu remaja untuk mengatasi kesulitanya, keterbukaan hati konselor di dalam membantu kesulitan yang dialami oleh remaja, akan menjadikan remaja sadar akan sikap serta tingkah lakunya yang kurang baik.

Dengan kemampuan pengendalian diri (self control) yang matang, remaja diharapkan bisa mengendalikan dan menahan tingkah laku yang bersifat tidak terpuji dan merugikan orang lain atau mampu mengendalikan serta menahan tingkah laku yang bertentangan pada norma-norma sosial yang berlaku.

Remaja/Murid juga diharapkan bisa mengantisipasi akibat-akibat negatif yang akan terjadi pada masa stroom and stress period. Dari fenomena yang terdapat diatas penulis sangat tertarik untuk meneliti bagaimana pendidikan anak dalam keluarga buruh dengan judul “UPAYA GURU BK DALAM MENINGKATKAN SELF CONTROL REMAJA DI MA Nurul Azhar Ngawi"

B. Fokus Penelitian

Untuk mempermudah penulis untuk menganalisis hasil penelitian, maka Penelitian ini difokuskan terhadap Guru BK dalam rangka meningkatkan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi yang meliputi tujuan, kegiatan sosial dan keagamaan yang dilakukan dalam meningkatkan self control hasil yang digapai, serta faktor pendukung dan penghambat.

C. Rumusan Masalah

Dalam sub penelitian ini pelaku peneliti mengambil rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah Upaya yang dilakukan Guru BK dalam meningkatkan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?

2. Hasil apa yang digapai dalam meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?

3. Apa faktor saja pendukung dan penghambat terhadap peningkatan Self Control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi?

D. Tujuan Penelitian

Berdasar pada latar belakang masalah dan fokus penelitian, maka Tujuan Penelitian yang ingin digapai adalah:

1. Untuk mendiskripsikan serta menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan Guru BK dalam angka meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
2. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan hasil yang diraih dalam meningkatkan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.
3. Untuk mendeskripsikan serta menjelaskan apa faktor pendukung dan penghambat terhadap peningkatan self control siswa di MA Nurul Azhar Ngawi.

E. Manfaat Penelitian

1. Manfaat teoritis
Penelitian ini diharapkan bisa menunjukkan bahwa konseling yang dilaksanakan oleh Guru BK di MA Nurul Azhar Ngawi dapat membentuk self control siswa.

2. Manfaat praktis
Penelitian ini bisa berguna sebagai masukan di dalam menentukan kebijakan lebih lanjut bagi MA Nurul Azhar Ngawi mengenai peranan Guru BK dalam membantu siswa siswa untuk membentuk self control yang baik.

II. STUDI KEPUSTAKAAN

 

manfaat metode kualitatif untuk penelitian kamu

From: projectproposalnola.com

Dalam rangka memperkuat masalah yang akan di teliti maka penulis mengadakan telaah pustaka dengan cara mencari serta menemukan teori-teori yang mau di jadikan landasan penelitian, yaitu:

Self Control (kontrol diri) yaitu kemampuan untuk membimbing tingkah laku/etika sendiri; kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri; kemampuan untuk menekan atau merintangi impuls-impuls atau etika laku impulsif.

Averill (dalam, Herlina Siwi, 2000) Menyebutkan kontrol diri dengan sebutan kontrol personal, yakni terdiri dari tiga jenis kontrol, sebagai berikut:

1. Behavior Control (kontrol perilaku), yang terdiri dalam dua komponen, adalah kemampuan mengatur pelaksanaan (regulated administration) serta kemampuan memodifikasi stimulus (stimulus modifiability).

2. Cognitive control (kontrol kognitif), terdiri dari dua komponen, yakni memperoleh informasi (information gain) dan melakukan penilaian (appraisal).

3. Decisional Control adalah kemampuan seseorang dalam memilih hasil atau suatu tindakan berdasarkan pada sesuatu yang diyakini atau disetujui nya, kontrol diri di dalam menentukan pilihan dapat berfungsi dengan baik, dengan adanya suatu kesempatan, kebebasan atau kemungkinan pada diri individu untuk memilih berbagai kemungkinan tindakan.

Dalam mengukur kontrol diri dipakai aspek-aspek yakni sebagai berikut:

1. Kemampuan dalam mengontrol tingkahlaku
2. Kemampuan dalam mengontrol stimulus
3. Kemampuan dalam mengantisipasi suatu peristiwa atau kejadian
4. Kemampuan dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian.
5. Kemampuan dalam mengambil keputusan.

Tiga langkah orang dewasa untuk membangun kontrol diri pada anak, berikut:

1. Langkah pertama yakni memperbaiki perilaku anda, sehingga dapat memberi contoh control diri yang baik untuk anak dan menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan prioritas utama.

2. Langkah kedua yaitu membantu anak menumbuhkan sistem regulasi internal sehingga bisa menjadi motivator bagi diri mereka sendiri khususnya.

3. Langkah ketiga yaitu mengajarkan cara membantu anak menggunakan kontrol diri ketika menghadapi masalah dan stres, mengajarkan untuk berfikir dahulu sebelum bertindak sehingga mereka akan memilih sesuatu yang aman dan baik untuk dirinya maupun orang lain.

Artikel Terkait: Cara Membuat Latar Belakang Makalah yang Baik dan Benar Beserta Contohnya

III. PROSEDUR PENELITIAN

dengan memahami isi dari sebuah novel sang pemimpi

From: uglydogbooks.com

A. Metode dan Alasan Menggunakan Metode

Pada penelitian ini digunakan Metodologi dengan pendekatan kualitatif, yang mempunyai karakteristik alami (natural setting) sebagai sumber data langsung, deskriptif, proses lebih dipentingkan dari pada hasil, analisis dalam penelitian kualitatif cenderung dilakukan secara analisa induktif serta makna merupakan hal yang esensial.

Terdapat 6 (enam) macam metodologi penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif, yakni: etnografis, studi kasus, grounded theory, interaktif, partisipatories, serta penelitian tindakan kelas.

Dalam hal ini penelitian yang digunakan yakni penelitian studi kasus (case study), yaitu: suatu penelitian yang dilaksanakan untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, serta interaksi lingkungan suatu unit sosial: individu, kelompok, lembaga, atau masyarakat.

B. Tempat Penelitian

Penelitian ini berlokasi di MA Nurul Azhar Ngawi karena di dasarkan pada beberapa pertimbangan:

MA adalah Sekolah Menengah Atas yang mempunyai konotasi perilaku yang tidak begitu baik menurut pandangan masyarakat. sehingga Konselor di MA sangat berperan dalam memantau penyimpangan perilaku para siswa.

C. Instrumen Penelitian

pada penelitian ini, yang menjadi instrumen utama adalah peneliti sendiri.

D. Sampel Sumber Data

Sumber data utama dalam penelitian ini yaitu kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah tambahan, seperti dokumen dan lainnya. Dengan demikian sumber data dalam penelitian ini berupa kata-kata dan tindakan sebagai sumber utama, sedangkan sumber data tertulis, foto dan catatan tertulis adalah sumber data tambahan.

E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi serta dokumentasi. Sebab bagi peneliti kualitatif fenomena dapat di mengerti maksudnya secara baik, jika dilakukan interaksi dengan subyek melalui wawancara mendalam dan observasi pada latar, dimana fenomena tersebut terjadi, di samping itu untuk melengkapi data diperlukan dokumentasi (tentang bahan-bahan yang ditulis oleh atau tentang subyek).

Wawancara yaitu percakapan dengan maksud tertentu. Maksud digunakannya wawancara antara lain

(a) mengkonstruksi mengenai orang, kejadian, kegiatan organisasi, perasaan, motivasi, tuntutan, kepedulian dan lain-lain,
(b) mengkonstruksikan kebulatan-kebulatan demikian yang dialami masa lalu.
Pada penelitian ini teknik wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara mendalam maksudnya peneliti mengajukan beberapa pertanyaan secara mendalam yang berhubungan dengan fokus permasalahan. Sehingga data-data yang dibutuhkan dalam penelitian bisa terkumpul secara maksimal sedangkan subjek peneliti dengan teknik Purposive Sampling yakni pengambilan sampel bertujuan, sehingga memenuhi kepentingan peneliti.

Mengenai jumlah informan yang diambil terdiri dari:

1. Kepala Sekolah MA Nurul Azhar Ngawi;
2. Guru Bimbingan dan Konseling MA Nurul Azhar Ngawi;
3. Seluruh Wali Kelas MA Nurul Azhar Ngawi

Teknik Observasi, dalam penelitian kualitatif observasi diklarifikasikan menurut 3 cara. Pertama, pengamat bisa bertindak sebagai partisipan atau nonpartisipan. Kedua, observasi dapat dilaksankan secara terus terang atau penyamaran. Ketiga, observasi yang menyangkut latar penelitian dan dalam penelitian ini menggunakan teknik observasi yang pertama di mana pengamat bertindak sebagai partisipan.
Teknik Dokumentasi, menggunakan teknik ini untuk mengumpulkan data dari sumber non insani, sumber ini terdiri dari dokumen dan rekaman.

“Rekaman" sebagai setiap tulisan/pernyataan yang dipersiapkan oleh atau untuk individual atau kelompok dengan tujuan membuktikan adanya suatu peristiwa. Sedangkan “Dokumen" digunakan untuk mengacu atau bukan selain pada rekaman, yakni tidak dipersiapkan secara khusus untuk tujuan tertentu, seperti: surat-surat, buku harian, catatan khusus, foto-foto dan lain sebagainya.

F. Teknik Analisis Data

Setelah semua data terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah pengelolahan dan analisa data. Yang di maksud dengan analisis data ialah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkannya kedalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusunnya ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, serta membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh dirinya sendiri atau orang lain.

Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif, jadi dalam analisis data selama di lapangan peneliti menggunakan model spradley, yaitu tehnik analisa data yang di sesuaikan dengan tahapan dalam penelitian, adalah:

1. Dalam tahap penjelajahan dengan teknik pengumpulan data grand tour question, yaitu pertama dengan memilih situasi sosial (place, actor, activity),
2. Kemudian setelah memasuki lapangan, dimulai dengan menetapkan seorang informan “key informant" yang merupakan informan, berwibawa dan dipercaya dapat “membukakan pintu" kepada peneliti untuk memasuki obyek penelitian.

Kemudian peneliti melakukan wawancara kepada informan tersebut, dan mencatat hasil wawancara yang dilakukan. Setelah itu perhatian peneliti pada obyek penelitian dan memulai untuk mengajukan pertanyaan deskriptif, dilanjutkan dengan analisis terhadap hasil wawancara. Berdasarkan hasil dari analisis wawancara berikutnya peneliti melakukan analisis domain.
3. Dalam tahap menentukan fokus (dilakukan dengan observasi terfokus) analisa data dilakukan menggunakan analisis taksonomi.
4. Dalam tahap selection (dilakukan dengan cara observasi terseleksi) kemudian peneliti mengajukan pertanyaan kontras, yang dilakukan dengan analisis komponensial.
5. Hasil dari analisis komponensial, melalui analisis tema peneliti menemukan tema-tema budaya. Berdasar pada temuan tersebut, selanjutnya peneliti menuliskan laporan penelitian kualitatif.

DAFTAR PUSTAKA

Borba, Michele. Membangun Kecerdasan Moral; Tujuh Kebajikan Utama Agar Anak Bermoral Tinggi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2008.
Ghufron, M. Nur. " Hubungan Kontrol diri, persepsi remaja terhadap penerapan disiplin orang tua dengan prokrastinasi akademik." Tesis Ilmu Psikologi UGM Yogyakarta, 2003. http://www.damandiri.or.id/file/mnurgufronugmbab2.pdf
Gunarsa, D. Singgih. Bunga rampai Psikologi Perkembangan; Dari anak sampai usia lanjut. Jakarta: Gunung Mulia, 2006.
Moleong, Lexy. Metodologi Penelitian Kualitatif . Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 2002.
Sugiyono, Metodologi Penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D Bandung: Alfabeta, 2006.

Jika membahas tentang metode penelitian kualitatif sebenarnya banyak versi, karena ahlinya juga banyak, biasa penelitian di suruh buat waktu saya kuliah sebagai tugas sepeti buat makalah, proposal, judul pdf, dan jenis penelitian kualitatif oleh sebab itu saya menulis artikel ini dengan tujuan agar mempermudahkan temen-temen dalam menyelesaikan tugasnya ..

“Sekian,semoga bermanfaat bagi saya khsusnya dan untuk para pembaca umumnya, dan terimakasih sudah Share sehingga dapat memudahkan teman-teman yang lain dalam mencari referensi khusunya dalam bidang metode kualitatif “.. :- )

 

Metode Penelitian Kualitatif